Senin, 24 Februari 2014

ROBOCOP [2014]


RoboCop (Metro-Goldwyn-Mayer Pictures/Columbia Pictures/Strike Entertainment, 2014)

Ketika dirilis pada tahun 1987, RoboCop yang disutradarai oleh Paul Verhoeven tidak hanya mampu mencuri perhatian para penikmat film dunia karena keberhasilan Verhoeven mewujudkan imajinasinya mengenai kehidupan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, sama seperti film-film arahan Verhoeven lainnya, RoboCop hadir dengan deretan adegan bernuansa kekerasan yang kental namun mampu diselimuti dengan naskah cerita yang begitu cerdas dalam memberikan satir tajam mengenai kehidupan sosial masyarakat dunia di saat tersebut. Keunikan itulah yang kemudian berhasil membawa RoboCop meraih kesuksesan baik secara kritikal – dimanaRoboCop berhasil meraih dua nominasi di kategori Best Film Editing dan Best Sound Mixing serta memenangkan penghargaan khusus di kategori Best Sound Effects Editing pada ajang The 60th Annual Academy Awards – maupun komersial serta dilanjutkan dengan dua seri film lanjutan (1990, 1993), serial televisi, dua serial televisi animasi, miniseri televisi, permainan video dan sejumlah adaptasi komik.

Dengan deretan kesuksesan tersebut, jelas tidak mengherankan jika Hollywood – yang tidak akan pernah melepaskan kesempatan untuk melakukan remake, reboot atau sekuel dari film-film terpopularnya – kini berusaha untuk mengulangi keberhasilannya. Versi terbaru dari RoboCop sendiri ditangani oleh José Padilha (Elite Squad, 2007) dengan naskah cerita yang disusun oleh Joshua Zetumer. Well… jika Anda ingin memberikan perbandingan dengan versi terdahulunya, versi modern dari RoboCop jelas terasa sebagai sebuah versi penceritaan yang lebih ringan dimana naskah ceritanya banyak melepaskan bagian-bagian bernuansa kekerasan dan kandungan satir sosial politik dari dalam jalan ceritanya. Bukan berarti RoboCop dibawah arahan Padilha hadir dengan kualitas yang buruk. Padilha dengan jeli memanfaatkan perkembangan zaman untuk memberikan tampilan lebih berteknologi tinggi bagi RoboCop-nya sekaligus mampu mengeksekusi dengan baik naskah cerita racikan Zetumer yang secara cerdas mengeksplorasi karakter-karakter yang ada di dalam jalan cerita RoboCop untuk menghasilkan sebuah presentasi cerita yang cukup berkelas.

Berlatar belakang di tahun 2028, dikisahkan bahwa perusahaan OmniCorp pimpinan Raymond Sellars (Michael Keaton) adalah sebuah perusahaan yang sukses untuk memproduksi robot-robot yang kemudian digunakan oleh pasukan militer Amerika Serikat sebagai senjata pertahanan mereka di luar negeri. Sayang, sebuah aturan bernama Dreyfus Act justru melarang penggunaan robot-robot militer tersebut di dalam negeri untuk menghindari jauhnya korban tidak bersalah dari kalangan sipil mengingat robot tidak memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan kembali setiap tindakannya. Sadar bahwa Amerika Serikat adalah sebuah pasar yang dapat mendatangkan keuntungan besar, Raymond lantas menugaskan Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) untuk merancang sebuah produk yang dapat menyatukan kekuatan tangguh para robot dengan hati nurani manusia.

Kesempatan itu kemudian datang ketika seorang polisi bernama Alex Murphy (Joel Kinnaman) sedang berada dalam kondisi kritis akibat serangan yang dilakukan oleh seorang penjahat yang sedang diburunya. Atas izin istrinya, Clara (Abbie Cornish), beberapa organ tubuh Alex yang masih dapat berfungsi kemudian ditempatkan ke dalam struktur tubuh robot yang sekaligus memberikan kesempatan bagi Alex untuk dapat merasakan kehidupan kembali. Siuman, Alex jelas merasa tidak nyaman dengan tubuh robotnya yang baru. Namun, setelah menyadari apa manfaat tubuh robot tersebut bagi dirinya, Alex secara perlahan mulai menerima kenyataan tersebut dan bahkan memanfaatkannya sebagai sarana untuk melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang polisi.

Meskipun tidak lagi memberikan tekanan yang kuat pada satir sosial politik dalam jalan ceritanya, naskah cerita yang digarap oleh Joshua Zetumer masih mampu hadir dengan kualitas penceritaan yang kuat berkat dedikasi Zetumer untuk memberikan plot penceritaan yang lebih intim kepada karakter Alex Murphy. Lebih dramatis dan humanis, Zetumer memanfaatkan dua pertiga bagian penceritaan RoboCop untuk mengulas secara mendalam berbagai konflik moral dalam pengubahan seorang sosok manusia dan pemanfaatannya sebagai sebuah produk sekaligus mendalami bagaimana sisi kemanusiannya mampu terus berjuang dan muncul meskipun telah berkali-kali dimodifikasi melalui kekuatan teknologi. Ditambah dengan kemampuan José Padilha dalam memberikan detil cerita pada kekuatan kisah dramatis tersebut,RoboCop berhasil hadir sebagai sebuah sajian fiksi ilmiah yang akan mampu memikat para penontonnya. Satir sosial politik juga sebenarnya tidak murni dihilangkan sepenuhnya dari RoboCop. Warna penceritaan tersebut masih banyak dapat dirasakan pada beberapa bagian cerita dengan potongan-potongan berita yang menampilkan Samuel L. Jackson sebagai pembawa berita bernama Pat Novak menjadi tumpuan utama bagian penceritaan tersebut.

And then comes the third act. Naskah cerita Zetumer sepertinya ingin menyisakan berbagai plot penceritaan yang berhubungan dengana degan aksi untuk disajikan pada bagian ketiga penceritaan. Disinilah letak kelemahan RoboCop. Plot penceritaan yang sedari awal berjalan dengan ritme perlahan mendadak kemudian bergerak secara terburu-buru dengan menghadirkan kisah usaha karakter Alex Murphy dalam menyelesaikan kasus pembunuhannya. Bukan sebuah langkah yang benar-benar buruk, namun dengan keterburu-buruan tersebut, berbagai aksi yang dilakukan karakter Alex Murphy terkesan kurang meyakinkan. Sebuah plot twist yang disajikan di akhir penceritaan juga menjadi hampa kehadirannya akibat eksekusi yang terburu-buru ini. Masih cukup menghibur. Namun jika dibandingkan dengan dua pertiga penceritaan awal RoboCop yang tersusun dengan begitu rapi, sepertiga penceritaan akhir dari film ini terkesan begitu berantakan.

Berbicara penampilan akting, Padilha berhasil mengumpulkan talenta-talenta terbaik untuk hadir mengisi departemen akting filmnya. Joel Kinnaman hadir dengan kharisma yang begitu kuat sebagai sang karakter utama. Kinnaman juga mampu menterjemahkan perjuangan karakter Alex Murphy dalam mempertahankan sisi humanisnya dengan sangat baik. Begitu pula dengan chemistry yang ia jalin dengan para pendampingnya, khususnya dengan Gary Oldman dan Abbie Cornish. Berbicara mengenai Oldman, penampilannya sebagai Dr. Dennett Norton benar-benar mampu mencuri perhatian. Begitu kuat dan sangat meyakinkan. Meskipun terlihat ada beberapa masalah dalam penggalian beberapa karakter pendukung – yang beberapa diantaranya tampak hadir dengan ruang penceritaan yang cukup, namun para pemeran pendukung seperti Michael Keaton, Jennifer Ehle, Jackie Earle Haley, Jay Baruchel, Samuel L. Jackson dan Michael K. Williams hadir dengan kapasitas akting yang sangat memuaskan.

Terlepas dari lemahnya paruh ketiga penceritaan dan pengurangan adegan bernuansa kekerasan serta satir sosial politik yang dahulu membuat RoboCop arahan Paul Verhoven menjadi begitu berkesan, versi modern dari RoboCop arahan José Padilha tetap mampu menjadi sebuah sajian yang cukup berkualitas. Naskah arahan Joshua Zetumer yang menggali lebih dalam mengenai karakter Alex Murphy terbukti mampu membuat kehadiran RoboCop menjadi terasa lebih personal dan humanis – satu sisi yang mungkin akan kurang begitu diterima oleh para penggemar RoboCop karya Verhoeven. Keputusan Padilha untuk memberikan sentuhan futuristik yang lebih kuat pada kualitas tata produksi filmnya juga terbukti berhasil menjadikan kehadiran RoboCop terasa lebih segar, khususnya bagi para penonton yang berasal dari generasi yang jauh lebih muda. Ditambah dengan dukungan akting kuat dari para jajaran pemerannya,RoboCop adalah sebuah remake yang mungkin masih jauh dari kesan sempurna namun tetap mampu hadir kuat dalam presentasinya.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2014/02/15/review-robocop-2014/

0 komentar:

Posting Komentar