Rabu, 19 Februari 2014

UNSUR UNSUR YANG DIPERLUKAN TUMBUHAN

Seperti halnya manusia dan hewan yang membutuhkan berbagai macam makanan, tumbuhan juga memerlukan zat-zat sebagai komponen penyusun makanannya. Unsur-unsur yang penting bagi tumbuhan adalah unsur-unsur yang bagi tumbuhan. Suatu unsur dikatakan esensial bagi tumbuhan apabila memenuhi syarat berikut.
Unsur tersebut berperan langsung dalam proses metabolisme.
Unsur tersebut diperlukan oleh tumbuhan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. 
Kebutuhan tumbuhan terhadap unsur tersebut bersifat khas dan tidak dapat digantikan oleh unsur lain 

Unsur-unsur esensial pada tumbuhan dibedakan menjadi unsur makro dan unsur mikro. 
Unsur Makro Unsur makro adalah unsur yang harus ada dalam tumbuhan dengan jumlah besar. Unsur makro terdiri atas karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, belerang,fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Karbon, Hidrogen, dan Oksigen Diperlukan tumbuhan dalam proses metabolisme, misalnya fotosintesis, dan respirasi. 

Nitrogen (N) 
Merupakan unsur hara di dalam tanah yang sangat berperan bagi pertumbuhan tanaman. Perilaku Nitrogen dalam tanah sulit diperkirakan karena perpindahannya sangat komlpeks. Lebih dari 98% nitrogen dalam tanah tidak tersedia karena terakumulasi dalam bahan organic atau terjerat dalam mineral liat.Dengan menggunakan KAMASTAN anda dapat memenuhi kebutuhan nitrogen tanaman anda. 

Fosfor (P) 
Unsur fosfor merupakan zat penting tetapi slalu dalam keadaan kurang di dalam tanah. Unsur P Sangat penting sebagai sumber energi oleh karena itu kekurangan fosfor dapat menghambat pertumbuhan dan reaksi metabolisme tanaman. Selain itu kandungan fosfor pada tanaman membantu dalam pertumbuhan bunga,buah,dan biji. Jika tanaman kekurangan fosfor akan menyebabkan daun dan batang kecil,daun berwarna hijau tua keabu-abuan,mengkilap dan terlihat pigmen merah pada bagian bawah daun lalu mati. 

Kalsium (Ca) 
Air yang dibutuhkan tanaman untuk hidup penyerapannya sangat dibantu oleh kalsium. 

Magnesium (Mg) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Mg++ Fungsi magnesium bagi tanaman ialah: 
a. Magnesium merupakan bagian tanaman dari klorofil 
b. Merupakan salah satu bagian enzim yang disebut Organic pyrophosphatse dan Carboxy peptisida 
c. Berperan dalam pembentukan buah 

Kalium (K) Diambil/diserap tanaman dalam bentuk : K+ 
Fungsi Kalium bagi tanaman adalah : 
a. Membantu pembentukan protein dan karbohidrat. 
b. Berperan memperkuat tubuh tanaman, mengeraskan jerami dan bagian kayu tanaman, agar daun, bunga dan buah tidak mudah gugur. c. Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit. 
d. Meningkatkan mutu dari biji/buah. 

Belerang (Sulfur / S) Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: SO4- 
Fungsi belerang bagi tanaman ialah: 
a. Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar 
b. Merupakan unsur yang penting dalam beberapa jenis protein dalam bentuk cystein,methionin serta thiamine 
c. Membantu pertumbuhan anakan produktif 
d. Merupakan bagian penting pada tanaman-tanaman penghasil minyak, sayuran seperti cabai, kubis dan lain-lain 
e. Membantu pembentukan butir hijau daun 

Unsur Mikro 

Mangan (Mn) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Mn++ Fungsi unsur hara Mangan (Mn) bagi tanaman ialah: 
a. Diperlukan oleh tanaman untuk pembentukan protein dan vitamin terutama vit. C 
b. Berperan penting dalam mempertahankan kondisi hijau daun pada daun yang tua 
c. Berperan sebagai enzim feroksidase dan sebagai aktifator macam-macam enzim 
d. Berperan sebagai komponen penting untuk lancarnya proses asimilasi 

Boron (B) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Bo O3- Fungsi unsur hara Boron (Bo) bagi tanaman ialah: 
a. Bertugas sebagai transportasi karbohidrat dalam tubuh tanaman 
b. Meningkatkan mutu tanaman sayuran dan buah-buahan 
c. Berperan dalam pembentukan/pembiakan sel terutama dalam titik tumbuh pucuk, juga dalam pembentukan tepung sari, bunga dan akar 
d. Boron berhubungan erat dengan metabolisme Kalium (K) dan Kalsium (Ca) 
e. Unsur hara Bo dapat memperbanyak cabang-cabang nodule untuk memberikan banyak bakteri dan mencegah bakteri parasit 

Tembaga (Cu) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Cu++ Fungsi unsur hara Tembaga (Cu) bagi tanaman ialah: 
a. Diperlukan dalam pembentukan enzim seperti: Ascorbic acid oxydase, Lacosa, Butirid Coenzim A. dehidrosenam 
b. Berperan penting dalam pembentukan hijau daun (khlorofil) 

Khlor (Cl) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Cl - Fungsi unsur hara Khlor (Cl) bagi tanaman ialah: 
a. Memperbaiki dan meninggikan hasil kering dari tanaman seperti: tembakau, kapas, kentang dan tanaman sayuran 
b. Banyak ditemukan dalam air sel semua bagian tanaman 
c. Banyak terdapat pada tanaman yang mengandung serat seperti kapas 

Molibdenum (Mo) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Mo O4- Fungsi unsur hara Molibdenum (Mo) bagi tanaman ialah: 
a. Berperan dalam mengikat (fiksasi) N oleh mikroba pada leguminosa 
b. Sebagai katalisator dalam mereduksi N 
c. Berguna bagi tanaman jeruk dan sayuran Molibdenum dalam tanah terdapat dalam bentuk Mo S2 

Seng (Zinc = Zn) 
Diambil/diserap oleh tanaman dalam bentuk: Zn++ Fungsi unsur hara Seng (Zn) bagi tanaman ialah: 
a. Dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan 
b. Diperkirakan persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis 
c. Berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah B

Besi (Fe) 
Besi (Fe) merupakan unsur mikro yang diserap dalam bentuk ion feri (Fe3+). Fe dalam tanaman sekitar 80% yang terdapat dalam kloroplas atau sitoplasma. Penyerapan Fe lewat daun dianggap lebih cepat dibandingkan dengan penyerapan lewat akar, terutama pada tanaman yang mengalami defisiensi Fe. Dengan demikian pemupukan lewat daun sering diduga lebih ekonomis dan efisien. Fungsi Fe antara lain sebagai penyusun klorofil, protein, enzim, dan berperanan dalam perkembangan kloroplas. Sitokrom merupakan enzim yang mengandung Fe porfirin. Kerja katalase dan peroksidase digambarkan secara ringkas sebagai berikut: I. Catalase : H2O + H2O O2 + 2H2O II. Peroksidase : AH2 + H2O A + H2O.

PESAWAT SEDERHANA

Pesawat sederhana adalah alat sederhana yang dipergunakan untuk mempermudah manusia melakukan usaha.
Pesawat sederhana berdasarkan prinsip kerjanya dibedakan menjadi : tuas/pengungkit, bidang miring, katrol dan roda berporos/roda bergandar. Pesawat sederhana mempunyai keuntungan mekanik yang didapatkan dari perbandingan antara gaya beban dengan gaya kuasa sehingga memperingan kerja manusia. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu per satu.

a. Tuas/Pengungkit
Tuas/pengungkit berfungsi untuk mengungkit, mencabut atau mengangkat benda yang berat.
Bagian-bagian pengungkit:


A = titik kuasa
T = titik tumpu
B = titik beban
F = gaya kuasa (N)
w = gaya beban (N)
lk = lengan kuasa (m)
lb = lengan beban (m)

Jenis-jenis tuas:
1) Tuas Jenis pertama
Yaitu tuas dengan titik tumpu berada diantara titik beban dan titik kuasa.

Contoh : pemotong kuku, gunting, penjepit jemuran, tang

2) Tuas Jenis kedua
Yaitu tuas dengan titik beban berada diantara titik tumpu dan titik kuasa.

Contoh : gerobak beroda satu, alat pemotong kertas, dan alat pemecah kemiri, pembuka tutup botol. i

3) Tuas Jenis ketiga
Yaitu tuas dengan titik kuasa berada diantara titik tumpu dan titik beban.

Contoh :sekop yang biasa digunakan untuk memindahkan pasir.

Keuntungan Mekanik Tuas
Keuntungan mekanik pada tuas adalah perbandingan antara gaya beban (w) dengan gaya kuasa (F), dapat dituliskan sebagai :
KM = w/F atau KM = lk/lb
Keuntungan mekanik pada tuas bergantung pada masing-masing lengan. Semakin panjang lengan kuasanya, maka keuntungan mekaniknya akan semakin besar.

b. Bidang Miring
Bidang miring merupakan salah satu jenis pesawat sederhana yang digunakan untuk memindahkan benda dengan lintasan yang miring.

Bagian-bagian bidang miring:



Prinsip Kerja Bidang Miring



Keuntungan mekanik bidang miring
Keuntungan mekanik bidang miring bergantung pada panjang landasan bidang miring dan tingginya. Semakin kecil sudut kemiringan bidang, semakin besar keuntungan mekanisnya atau semakin kecil gaya kuasa yang harus dilakukan.
Keuntungan mekanik bidang miring dirumuskan dengan perbandingan antara panjang (l) dan tinggi bidang miring (h).
KM = l/h

Pemanfaatan bidang miring dalam kehidupan sehari-hari terdapat pada tangga dan jalan di daerah pegunungan.

c. Katrol
Katrol merupakan roda yang berputar pada porosnya. Biasanya pada katrol juga terdapat tali atau rantai sebagai penghubungnya. Berdasarkan cara kerjanya, katrol merupakan jenis pengungkit karena memiliki titik tumpu, kuasa, dan beban. Katrol digolongkan menjadi tiga, yaitu katrol tetap, katrol bebas, dan katrol majemuk.
1) Katrol tetap

Katrol tetap merupakan katrol yang posisinya tidak berpindah pada saat digunakan. Katrol jenis ini biasanya dipasang pada tempat tertentu.
Contoh : katrol yang digunakan pada tiang bendera dan sumur timba

Keuntungan mekanik
Pada katrol tetap, panjang lengan kuasa sama dengan lengan beban sehingga keuntungan mekanik pada katrol tetap adalah 1, artinya besar gaya kuasa sama dengan gaya beban.

2) Katrol bebas

Berbeda dengan katrol tetap, pada katrol bebas kedudukan atau posisi katrol berubah dan tidak dipasang pada tempat tertentu. Katrol jenis ini biasanya ditempatkan di atas tali yang kedudukannya dapat berubah. Salah satu ujung tali diikat pada tempat tertentu. Jika ujung yang lainnya ditarik maka katrol akan bergerak. Katrol jenis ini bisa kita temukan pada alat-alat pengangkat peti kemas di pelabuhan.

Keuntungan mekanik
Pada katrol bebas, panjang lengan kuasa sama dengan dua kali panjang lengan beban sehingga keuntungan mekanik pada katrol tetap adalah 2, artinya besar gaya kuasa sama dengan setengah dari gaya beban.

3) Katrol majemuk /takal

Katrol majemuk merupakan perpaduan dari katrol tetap dan katrol bebas. Kedua katrol ini dihubungkan dengan tali. Pada katrol majemuk, beban dikaitkan pada katrol bebas. Salah satu ujung tali dikaitkan pada penampang katrol tetap. Jika ujung tali yang lainnya ditarik maka beban akan terangkat beserta bergeraknya katrol bebas ke atas.

Keuntungan mekanik
Keuntungan mekanik pada katrol majemuk adalah sejumlah tali yang digunakan untuk mengangkat beban.

d. Roda Berporos/roda bergandar

Roda berporos merupakan roda yang di dihubungkan dengan sebuah poros yang dapat berputar bersama-sama. Roda berporos merupakan salah satu jenis pesawat sederhana yang banyak ditemukan pada alat-alat seperti setir mobil, setir kapal, roda sepeda, roda kendaraan bermotor, dan gerinda.

sumber: http://sukasains.com/materi/pesawat-sederhana/

TIPS 5 POLA MAKAN YANG SEHAT


Saat Anda masih kecil, Anda dijejali dengan banyak peraturan tentang pola makan sehat. Anda harus banyak makan sayur, Anda harus rajin minum susu, dan Anda juga harus menghabiskan semua makanan Anda.

Namun ternyata selain hal tersebut, ada beberapa hal tentang pola makan yang baik yang belum sempat Anda pelajari saat masih kecil. Berikut adalah penjelasannya

Menyesuaikan dengan tubuh Anda
Tubuh mempunyai caranya sendiri untuk menentukan nutrisi apa dan seberapa banyak nutrisi yang ia butuhkan. Begitu pula dengan tubuh Anda. Dilansir dari mindbodygreen.com, tidak semua makanan, nutrisi, dan pola diet cocok untuk Anda. Oleh karena itu sebelum menentukan makanan, jenis nutrisi, dan pola diet ada baiknya Anda mendengarkan tubuh Anda terlebih dahulu.

Menyisakan makanan di piring
Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk tidak menyisakan makanan di piring mereka. Namun ternyata dengan menyisakan makanan di piring, Anda memberi kesempatan bagi tubuh Anda untuk mencerna makanan dengan baik sehingga rasa kenyang pun akan datang lebih cepat. Anda pun juga dapat benar-benar menikmati makanan tersebut.

Mengatur rasa lapar
Rasa lapar yang amat sangat dapat terjadi tidak hanya karena Anda benar-benar lapar. Bisa saja itu terjadi karena pengaruh emosional Anda. Oleh karena itu sebelum melahap suatu makanan, pikirkanlah apakah Anda memang benar-benar membutuhkan makanan itu atau itu hanya karena perasaan stres, kesepian, dan bosan yang menghinggapi Anda?

Jangan terlalu menghitung kalori
Menghitung kalori dipercaya dapat membantu tubuh menjaga kestabilan berat badannya. Namun hal ini malah membuat orang berpikir tentang kuantitas bukan kualitas. Mereka jadi cenderung mengabaikan beberapa kalori yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tubuh demi alasan menjaga bentuk badan.

Tetap minum susu
Kebiasaan baik yang Anda lakukan saat masih kecil dengan rajin minum susu sebaiknya tetap Anda pertahankan hingga dewasa. Susu kaya akan vitamin, mineral, dan kalsium yang baik untuk kesehatan tubuh.

Pola makan sehat yang ternyata tidak hanya berlaku saat Anda masih dalam masa pertumbuhan. Ada baiknya Anda tetap mempertahankan pola makan sehat selama hidup Anda demi senantiasa membuat tubuh menjadi lebih bugar.

SEJARAH ANONYMOUS

Anonymous grup Hacker nomor satu di dunia telah sering menghebohkan dunia dengan aksi-aksinya. Kelompok hacker ini sudah berulangkali menyerang ke berbagai situs penting di seluruh dunia. 

Awal dari pembentukan kelompok Anonymous ini sendiri bermula di tahun 2003 yang berasal dari forum internet bernama 4Chan. Untuk misi yang dijunjung, kelompok hacker ini menentang sensor dan pembatasan kebebasan berinternet terlebih pengawasan online yang dilakukan oleh pemerintah. 

Tak heran jika kebanyakan aksi penyerangan oleh kelompok Anonymous ini ditujukan pada situs-situs resmi pemerintah.

Anggota dari grup Anonymous ini sendiri sampai saat ini sangat sulit untuk diketahui. Bahkan tidak ada informasi jelas mengenai siapa saja yang tergabung dalam grup Anonymous.

Memang, sesuai dengan namanya, Anonymous yang dalam bahasa Inggris berarti tidak diketahui, kelompok hacker ini sangat merahasiakan identitas mereka.

Bahkan jika terpaksa tampil di depan publik, mereka biasanya memakai topeng ala Guy Fawkes, seorang aktivis berasal dari Inggris yang sangat tersohor di masanya.

Hacker Anonymous sampai saat ini telah berhasil melumpuhkan banyak situs penting seperti situs Departemen Kehakiman AS, FBI, dan Motion Picture Association of America (MPAA). Anonymous juga pernah melakukan aksi protes ke negara besar dengan melakukan aksi peretasan besar-besaran seperti contohnya OpIsrael beberapa waktu yang lalu.

Sampai saat ini sendiri kelompok hacker Anonymous juga masih eksis di dunia maya dengan mengusung slogan terkenal mereka yaitu 'We are Anonymous. We are Legion. We do not forgive. We do not forget. Expect us.'

REVIEW BITDEFENDER ANTIVIRUS TERBAIK DI DUNIA


Bitdefender Antivirus Plus Terbaik 2013
Bitdefender Antivirus Plus adalah antivirus yang kuat dan mudah untuk digunakan dengan keamanan yang efektif. Bitdefender Antivirus Plus adalah antivirus software terbaik dengan fitur keamanan dan penampilan yang sangat baik.Cara pengunstalan antivirus ini sangat cepat dengan mengikuti petunjuk selangkah demi selangkah. Proses termasuk pre-instalation scan dan tidak memerlukan reboot. Alikasi yang digunakan menggunakan sebuah fitur yang dinamakan Autopilot.







Spesifikasi dan Kelebihan Bitdefender Antivirus Plus:
  • Bitdefender Autopilot. Semua keamanan untuk bermain, menonton film atau hanya menikmatiPC tanpa adanya gangguan.
  • Bitdefender Safepay.Melindungi PC dari hacker secara otomatis membuka e-banking dan e-shopping pada menu yang terpisah dan mengamankan browser.
  • Social Network Protection. Menyaring link yang diterima dari facebook, twitter dan memonitor setingan privacy.
  • Antiphishing. Memblokir website yang membawa bermacam jenis scams atau usaha penipuan kartu kredit.
  • Search Advisor. Memberikan peringatan secara dini terutama pada hasil pencarian Google dan Bing.
  • USB Immunizer. Menjaga Flash Drives dari serangan virus ketika dihubungkan ke PC.

RECOMMENDED SYSTEM REQUIREMENTS
Sistem Operasi: Microsoft Windows XP SP3 (32-bit), Vista (SP2),
Windows 7 (SP1), Windows 8
CPU: Intel CORE Duo (1.66 GHz)
Memory (RAM):
1 GB (Microsoft Windows XP)
1.5 GB (Microsoft Windows Vista dan Windows 7)
Hard disk space kosong : 2.8 GB (sekurang kurangnya 800 MB pada sistem drive)

SENI LUKIS PASIR BIKSU TIBET PALING RUMIT DI DUNIA

Menghancurkan istana pasir bisa menjadi sangat menyenangkan. Tetapi bagaimana jika Anda telah menghabiskan berminggu-minggu menciptakan lukisan pasir dengan susah payah, hanya untuk dihancur pada akhirnya? Tapi inilah yang dilakukan oleh para biksu Tibet. Mereka yang membuat lukisan pasir indah, dan diakhir mereka hancurkan lukisan indah itu. Hal ini dikatakan untuk menandakan ketidakkekalan hidup.

Pasir Mandala adalah seni menciptakan karya yang rumit dengan menggunakan pasir berwarna, dipraktekkan oleh para biksu Tibet sebagai bagian dari tradisi tantra. Dalam bahasa Tibet, seni ini disebut dul-Tson-kyil-khor (mandala bubuk berwarna). Sebagai bagian dari pasir mandala, butiran pasir diletakkan dengan susah payah di kanvas datar. Beberapa biarawan bekerja pada satu bagian, yang dapat mengambil waktu berhari-hari untuk menyelesaikan.




The Mandala Kata berarti ‘lingkaran’ dalam bahasa Sansekerta dan dikatakan untuk mewakili kosmogram seorang Buddha atau Bodhisattva. Seni ini termasuk seni geometris dan beberapa simbol spiritual Budha. Sahabat anehdidunia.com sebuah pasir-dicat beragam warna yang disebut mandala dan digunakan sebagai alat untuk melukis. Menurut kepercayaan Budha, biksu yang mempraktekkan seni representasi visual dari pikiran yang tercerahkan oleh sang Budha.

Sebuah mandala pasir khas terdiri dari sebuah cincin luar, di dalam ada persegi yang lebih kecil mewakili ‘langit istana’, sebuah tempat tinggal dewa. Persegi ini memiliki empat gerbang yang mewakili masing-masing empat arah. Lingkaran serta alun-alun dibuat dengan beberapa lapisan yang rumit Alun-alun berisi lingkaran, dibagi menjadi 9 sektor. Para mandala Tibet yang tampak sederhana. Mereka mungkin terlihat seperti mereka terdiri dari pola dasar, tetapi sangat kompleks dan mungkin memerlukan beberapa minggu untuk menyelesaikan. Biksu Budha menjalani bertahun-tahun pelatihan sebelum mereka dapat membuat mandala. Karena ritual ini dianggap sangat sakral, hal itu tidak dapat dilakukan sembarangan orang. Jadi sebelum mandala dibuat, seorang bhikkhu akan menghabiskan waktu dalam studi filosofis dan artistik. Setelah tingkat pemahaman telah tercapai, mandala dapat dibuat. Dalam biara pribadi Dalai Lama, biara Nyamgal, biarawan menghabiskan sekitar tiga tahun belajar sebelum membuat mandala.




Secara tradisional, empat biarawan bekerja pada mandala tunggal, masing-masing mengambil dari empat kuadran. Masing-masing empat biarawan memiliki asisten untuk mengisi garis rinci mereka dengan warna. Semua biarawan mulai bekerja pada mandala dari pusat, bergerak ke arah luar. Sahabat anehdidunia.com bahkan sebelum mereka dapat mulai bekerja, para biarawan melakukan upacara pembukaan. Kemudian, kapur yang digunakan untuk membuat cetak biru dari mandala, dimulai dengan satu titik di pusat. Empat garis ditarik dari titik ini, setelah itu setiap biarawan akan bekerja di kuadran sendiri. Cetak biru selesai, menguraikan diisi dengan pasir berwarna, terbuat dari batu putih hancur dan dicelup. Sebuah bergerigi, corong seperti perangkat yang digunakan untuk mengisi aplikasi pasir, yang dikenal sebagai chakpu. Dua chakpus yang menggesek satu sama lain, menghasilkan getaran yang melepaskan pasir ke cetak biru.

Tapi yang paling unik tentang mandala pasir Tibet adalah saat mereka hancur setelah selesai. Para biarawan bekerja metodis akan menyikat pasir, mendorong semuanya menuju pusat platform. Seluruh proses ini dibatalkan, dan pasir dituangkan ke dalam air terdekat. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengajari kita untuk tidak melekat pada benda-benda duniawi, dan melambangkan ketidakkekalan dari semua hal-hal materi.

sumber: http://www.anehdidunia.com/2013/01/seni-lukis-pasir-biksu-tibet-paling.html

INSIDIOUS

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

Teror itu sendiri dimulai ketika anak tertua mereka, Dalton (Ty Simpkins), ditemukan tidak sadarkan diri di suatu pagi. Tim medis yang memeriksakan kondisi Dalton kemudian menyatakan bahwa Dalton berada dalam kondisi koma, walaupun mereka sendiri heran karena tidak ditemukan adanya gejala kerusakan pada susunan otak Dalton. Tidak hanya berhenti di situ, setelah Dalton jatuh koma, berbagai hal aneh mulai menyelimuti keseharian pasangan Josh dan Renai. Dengan bantuan Lorraine, Josh dan Renai diperkenalkan dengan Elise Reiner (Lin Shaye), seorang wanita yang mampu menganalisa hal-hal berbau aktivitas paranormal dan ternyata telah mengenal Josh semenjak kecil. Lewat beberapa pengamatan yang ia lakukan, Elise kemudian membuka tabir sebuah mimpi buruk yang jika dibiarkan dapat saja mengambil Dalton dari sisi Josh dan Renai.

Jika beberapa tahun belakangan Hollywood selalu membanjiri para penggemar horor dengan film-film yang banyak menampilkan adegan sadisme – terlepas ketika sesekali mereka kembali menghadirkan rangkaian kisah-kisah para arwah penasaran dengan cara melakukan remake terhadap beberapa film horor Asia – maka Insidious adalah sebuah flm yang sepertinya dibuat untuk mengekor kesuksesan Paranormal Activity, sebuah film horor yang bercerita mengenai teror gaib yang menghantui satu pasangan dan sempat meraih sukses luar biasa ketika dirilis pada tahun 2009 silam. Well… tidak perlu merasa terlalu heran juga. Oren Peli, sutradara dari Paranormal Activity sendiri, turut terlibat sebagai produser dalam pembuatan Insidious.

Ditulis oleh Leigh Whannell, aktor yang juga menulis naskah beberapa seri Saw serta film horor Dead Silence (2007) arahan Wan, Insidious sebenarnya sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru di dalam jalan ceritanya. Untuk menakuti penontonnya, Insidious masih tetap menyajikan berbagai karakter-karakter gaib dalam rupa yang menyeramkan dan muncul dalam waktu-waktu yang tidak dapat terduga. Satukan dengan tata musik arahan Joseph Bishara yang begitu mampu menambah intensitas horor di setiap adegan, rasanya tidak akan ada seorangpun yang mampu melewatkan deretan teror berupa kejutan-kejutan secara audio maupun visual yang ditampilkan di sepanjang 100 menit durasi film ini berjalan.

Kunci utama keberhasilan Insidious dalam menjadi sebuah presentasi horor yang sesungguhnya adalah karena baik James Wan dan Leigh Whannell mampu menyusun intensitas horor di dalam jalan cerita film ini secara perlahan namun terjaga dengan baik. Satu persatu berbagai misteri yang menghantui para karakter di film ini dibuka untuk kemudian dinaikkan intensitasnya pada adegan berikutnya. Sayangnya, di saat ketika seluruh misteri yang menghantui para karakter film ini dibuka, di saat itu pula intensitas cerita terasa mulai kurang menggigit. Penonton seperti telah mengerti hendak dibawa kemana arah cerita film ini akan berjalan. Bahkan dengan pemilihan ending yang ditampilkan oleh Wan dan Whennell untuk Insidious kemungkinan besar telah dapat ditebak oleh beberapa orang penonton. Walau tidak begitu mengurangi kualitas film ini secara keseluruhan, namun tidak dapat disangkal bahwa tingkat kengerian yang tadinya begitu tinggi pada paruh pertama film terasa begitu terhempas pada paruh kedua film ini.

Walau begitu, Insidious memiliki jajaran departemen akting yang sangat memuaskan. Patrick Wilson, seperti biasa, menampilkan kemampuan terbaiknya dalam berakting. Begitu pula dengan Rose Byrne, Barbara Hershey dan Lin Shaye. Walaupun tidak mendapatkan peran yang begitu besar, Leigh Whannell dan Angus Sampson, yang berperan sebagai dua asisten bagi karakter Elise Reiner, cukup mampu beberapa kali tampil mencuri perhatian. Ini disebabkan dialog dan peran mereka ditampilkan secara komikal dan sedikit terlihat sebagai sebuah parodi bagi film-film yang bertema pengusiran setan lainnya.

Cukup menyenangkan untuk menyaksikan sebuah presentasi seperti Insidious. Walau dikemas dengan berbagai teknik tradisional yang sering ditampilkan film-film horor dalam usaha untuk menakuti para penontonnya, James Wan terbukti memiliki bakat yang cukup dalam untuk mengarahkan para jajaran pemerannya serta mengelola jalan cerita yang ingin ia sampaikan sehingga mampu tampil menarik secara keseluruhan. Walau beberapa bagian terasa lebih datar jika dibandingkan dengan beberapa bagian lainnya, namun Insidious tetap mampu tampil sebagai sebuah hiburan horor yang terasa begitu menyegarkan di tengah-tengah banyaknya film horor yang hadir dengan tema dan penceritaan yang cukup monoton.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2011/06/14/review-insidious-2011/

THE HUNGER GAME: CATCHING FIRE

Ketika The Hunger Games dirilis tahun lalu, dunia dengan sesegera mungkin membandingkannya dengan seri film The Twilight Saga. Tidak mengherankan memang. Selain karena kedua jalan ceritanya dipimpin oleh sosok karakter utama wanita yang begitu dominan, baik The Hunger Games dan seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) juga melibatkan jalinan kisah cinta segitiga yang, tentu saja, tampil begitu menggiurkan bagi kalangan penonton young adult yang memang menjadi target penonton utama bagi kedua seri film ini. Meskipun begitu, The Hunger Games kemudian membuktikan kekuatannya ketika berhadapan dengan faktor kritikal maupun komersial: The Hunger Games tidak hanya mampu menarik perhatian penonton dalam skala besar – total pendapatan sebesar lebih dari US$ 691 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$78 juta – namun juga berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia, khususnya atas susunan cerita yang lebih kompleks dan menegangkan daripada The Twilight Saga serta penampilan Jennifer Lawrence yang begitu memikat.

The Hunger Games: Catching Fire sendiri merupakan sekuel pertama bagi The Hunger Games yang juga masih diadaptasi dari seri novel berjudul sama karya Suzanne Collins. Beberapa perubahan terjadi dalam proses produksi film ini. Kursi penyutradaraan The Hunger Games: Catching Fire kini diduduki oleh Francis Lawrence (Water for Elephants, 2011) yang menggantikan posisi Gary Ross. Dan, yang membuat The Hunger Games: Catching Fire tampil lebih menjanjikan, naskah ceritanya kini ditangani oleh dua penulis naskah kaliber Academy Awards, Simon Beaufoy (127 Hours, 2010) dan Michael Arndt (Toy Story 3, 2010). Deretan nama-nama baru dalam proses produksi The Hunger Games: Catching Fire ternyata mampu memberikan nafas baru yang sangat menyegarkan bagi film ini. Tidak hanya tampil lebih baik dalam bercerita dari seri pendahulunya, The Hunger Games: Catching Fire juga terasa lebih padat dan kuat dalam mencengkeram sisi emosional penontonnya – hal yang mungkin tidak akan pernah dibayangkan kebanyakan orang untuk datang dari sebuah seri film yang dianggap sebagai pengganti posisi seri film The Twilight Saga.

Jalan cerita The Hunger Games: Catching Fire mengambil masa waktu hampir setahun semenjak berbagai insiden yang terjadi pada The Hunger Games. Katniss Everdeen (Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) kini sedang menjalani Victory Tour dan mengunjungi seluruh distrik yang ada di Panem berkat kemenangan mereka yang lalu di The 74th Annual Hunger Games. Meskipun nama mereka kini telah begitu popular dan menjadi pujaan banyak masyarakat Panem, namun baik Katniss maupun Peeta masih dihantui trauma yang begitu mendalam atas berbagai kematian yang harus mereka hadapi dalam kompetisi tersebut. Di saat yang bersamaan, kemenangan Katniss dan Peeta yang datang dari District 12 ternyata memberikan inspirasi bagi banyak masyarakat Panem untuk bergerak dan memberikan perlawanan bagi pemerintahan mereka yang bertangan besi. Hal inilah yang kemudian membuat President Coriolanus Snow (Donald Sutherland) mulai memikirkan sebuah cara untuk dapat menyingkirkan Katniss sekaligus membuktikan bahwa kekuasannya tidak dapat dikalahkan.

Keberadaan Simon Beaufoy dan Michael Arndt dalam departemen penulisan naskah The Hunger Games: Catching Firejelas memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi peningkatan kualitas jalan cerita film ini. Jika jalan cerita The Hunger Games sepertinya lebih berusaha untuk memberikan fokus pada kisah asmara yang terbentuk antara karakter Katniss dan Peeta – dengan hubungan antara karakter Katniss dan Gale menjadi kisah bayangannya, maka The Hunger Games: Catching Fire jelas memberikan ruang yang lebih luas bagi elemen-elemen penceritaan lain untuk dapat berkembang. Jangan salah. Romansa yang terbentuk antara ketiga karakter tersebut masih dihadirkan dalam penceritaanThe Hunger Games: Catching Fire. Hanya saja, daripada menjadikannya sebagai sebuah sajian utama, Beaufoy dan Arndt memilih untuk menyajikan kisah romansa tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan dari sebuah jalinan kisah yang lebih universal lagi. Keterikatan antara kisah romansa dengan elemen-elemen penceritaan lain dalam jalan cerita The Hunger Games: Catching Fire inilah yang membuat film ini mampu bercerita lebih kuat dan jauh, jauh lebih emosional dibandingkan dengan The Hunger Games.

Tidak hanya dari sisi cerita. Beaufoy dan Arndt juga berhasil memberikan pendalaman karakter yang lebih luas bagi banyak karakter pendukung. Lihat bagaimana karakter Effie Trinket (Elizabeth Banks) yang kini tampak lebih humanis daripada sebelumnya. Atau karakter Gale dan Primrose Everdeen (Willow Shields) yang diberikan ruang yang lebih luas untuk bercerita. Keberhasilan Beaufoy dan Arndt untuk membangun susunan cerita yang lebih padat dan berisi kemudian mendapatkan eksekusi yang begitu cerdas dari Francis Lawrence. Lawrence menggarap The Hunger Games: Catching Fire secara perlahan dengan memberikan ruang yang cukup bagi penonton untuk mencerna apa yang telah terjadi dalam seri sebelumnya sekaligus memberikan gambaran mengenai insiden yang akan berjalan di seri ini. Ritme penceritaan memang terasa berjalan lamban di awal film. Namun hal itu kemudian berubah dan terasa berjalan begitu cepat ketika The Hunger Games: Catching Fire telah menginjak konflik utamanya. Paduan penceritaan dan pengarahan yang padat inilah yang kemudian berhasil membuat The Hunger Games: Catching Fire tampil begitu emosional sekaligus menegangkan – bahkan akan berhasil membuat penonton menggeram di kursi mereka ketika film ini berakhir dan menyadari bahwa lanjutan kisah berikutnya baru akan hadir setahun kemudian.

And let’s talk about Jennifer Lawrence. Lawrence adalah bintang utama dalam presentasi kisah The Hunger Games: Catching Fire dan Lawrence berhasil menarik seluruh perhatian penonton untuk tertuju padanya setiap kehadiran karakter Katniss Everdeen di dalam jalan cerita. Karakter Katniss Everdeen jelas adalah sosok karakter yang begitu istimewa – tidak pernah digambarkan sebagai seorang pahlawan yang berusaha untuk menyelamatkan semua orang yang membutuhkan namun dengan kepribadiannya berhasil menggerakkan semua orang untuk menjadi pahlawan bagi diri mereka sendiri. Sosok karakter yang kuat dan rapuh di saat yang bersamaan. Lawrence dengan penuh kesungguhan menghidupkan karakter tersebut dengan baik dan sangat, sangat mengesankan.

Tidak hanya Lawrence, barisan pemeran pendukung dalam The Hunger Games: Catching Fire juga tampil lugas dalam memerankan karakter yang mereka perankan. Diantara para pemeran pendukung tersebut, Philip Seymour Hoffman, Sam Claflin dan Jena Malone berhasil tampil mencuri perhatian dalam penampilan akting mereka yang sangat kuat. The Hunger Games: Catching Fire juga didukung dengan kualitas tatanan produksi yang maksimal. Sinematografi arahan Jo Willems mampu memberikan deretan gambar yang begitu nyaman untuk disaksikan. Tata musik arahan James Newton Howard juga berhasil memberikan tambahan emosional bagi banyak adegan yang hadir dalam penceritaan The Hunger Games: Catching Fire.

Hadirnya Francis Lawrence, Simon Beaufoy dan Michael Arndt ternyata mampu mengangkat kualitas presentasi cerita dan pengarahan dari The Hunger Games: Catching Fire. Berkat jalinan cerita yang padat dari Beaufoy dan Arndt, The Hunger Games: Catching Fire tidak lagi terasa sebagai sebuah seri penceritaan yang berusaha menyenangkan para penonton young adult saja. Beaufoy dan Arndt memastikan bahwa penceritaan dari seri The Hunger Games turut bertambah dewasa seiring dengan berlanjutnya penceritaan seri film ini. Di kursi penyutradaraan, Lawrence mampu mengarahkan jalan ceritanya dengan sangat solid, menggarap cerita The Hunger Games: Catching Fire dengan ritme penceritaan yang tepat sekaligus mendapatkan penampilan akting terbaik dari jajaran pengisi departemen aktingnya, khususnya Jennifer Lawrence yang sekali lagi tampil begitu bersinar sebagai Katniss Everdeen. Sulit untuk membayangkan bagaimana seri berikut dari The Hunger Games akan mampu menyaingi penampilan kualitas dari The Hunger Games: Catching Fire. Sebuah sajian yang tetap menghibur namun lebih padat berisi dalam penyampaiannya.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2013/11/22/review-the-hunger-games-catching-fire-2013/

THE CONJURING

Nama James Wan mungkin selamanya akan dikenal sebagai seorang penulis naskah sekaligus sutradara dari film Saw(2004) – sebuah film thriller yang sukses mencuri perhatian penikmat film dunia dan lalu berkembang menjadi sebuahfranchise yang berisikan tujuh seri film sekaligus menyebarkan kembali virus torture porn di kalangan pembuat film Hollywood lainnya. Pun begitu, seperti yang dapat disaksikan lewat Dead Silence (2007) dan Insidious (2011), Wan kemudian memilih untuk menyajikan kengerian dalam film-film yang ia hadirkan berikutnya lewat formula horor tradisional yang lebih mengutamakan atmosfer penceritaan yang mencekam, intensitas ketegangan yang terjaga serta kejutan-kejutan horor daripada deretan adegan yang dipenuhi kekerasan, simbahan darah maupun potongan tubuh para karakter yang ada di dalam jalan cerita. Film teranyar arahan Wan, The Conjuring, sekali lagi mencoba untuk mengeksplorasi formula horor tradisional tersebut dalam memaparkan dua tema penceritaan horor yang familiar – rumah berhantu dan aksi pengusiran setan – dan menggabungkannya menjadi sebuah kesatuan cerita yang mampu menghadirkan rasa ketakutan mendalam pada setiap penontonnya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo Chad dan Carey Hayes (The Reaping, 2007) berdasarkan kisah nyata mengenai sebuah kasus yang dialami oleh pasangan penyelidik masalah-masalah paranormal, Ed dan Lorraine Warren,The Conjuring memulai kisahnya dengan kepindahan pasangan suami istri, Roger (Ron Livingston) dan Carolyn Perron (Lili Taylor), bersama dengan kelima puteri mereka, Andrea (Shanley Caswell), Nancy (Hayley McFarland), Christine (Joey King), Cindy (Mackenzie Foy) dan April (Kyla Deaver), ke sebuah rumah tua yang terletak di wilayah Harrisville, Rhode Island, Amerika Serikat. Roger dan Carolyn telah bersiap untuk memulai kehidupan baru mereka bersama kelima puterinya di rumah tersebut. Namun, layaknya seperti yang selalu terjadi dalam film-film horor klasik bertema sama, keluarga tersebut secara perlahan mulai merasakan adanya gangguan yang tidak dapat dijelaskan hadir dalam keseharian mereka.

Setelah beberapa saat mencoba bertahan dan menghadapi gangguan-gangguan tersebut, Carolyn akhirnya memutuskan untuk menghubungi pasangan paranormal, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga). Ed sendiri sebenarnya tidak begitu berniat untuk menjawab permintaan Carolyn untuk menolong keluarganya akibat sebuah permasalahan yang terjadi pada Lorraine dalam kasus terakhir yang mereka hadapi. Lorraine sendiri yang kemudian bersikeras dan mendorong Ed agar mau mengambil kasus tersebut. Dan benar saja, setibanya Ed dan Lorraine di rumah yang dihuni oleh keluarga Perron, keduanya langsung merasakan adanya kekuatan supernatural jahat yang berniat tidak hanya untuk mengganggu keluarga tersebut… namun juga mengancam keselamatan bahkan nyawa mereka.

Tidak seperti kebanyakan film horor modern – yang menghadirkan (terlalu) banyak momen-momen kejutan dalam presentasi ceritanya untuk memberikan rasa takut pada penonton, James Wan justru menyajikan The Conjuring dalam teknik penceritaan film-film horor klasik. Wan sama sekali tidak terburu-buru dalam menyajikan jalan ceritanya namun, di saat yang bersamaan, Wan juga memastikan bahwa alur moderat yang ia gunakan mampu membuka secara perlahan setiap tabir misteri yang ingin ia hadirkan kepada penonton sekaligus membuat setiap karakter memiliki penggalian serta plot penceritaan yang kuat. Kemampuan Wan dalam menangani struktur penceritaan The Conjuring secara cerdas itulah yang kemudian berhasil membuat atmosfer horor yang terkandung di dalam film ini berkembang dengan sempurna dan akhirnya melibatkan penonton secara efektif untuk turut larut dalam berbagai kengerian yang disajikan.

Kehadiran karakter-karakter dalam jalan cerita The Conjuring juga menjadi salah satu elemen terkuat penceritaan film ini ketika Wan berhasil memilihkan para aktor dan aktris yang demikian meyakinkan mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Nama-nama seperti Patrick Wilson, Ron Livingston hingga pemeran muda seperti Joey King, Mackenzie Foy serta nama-nama peran pendukung yang belum familiar seperti Shannon Kook dan John Brotherton berhasil menjadikan kualitas departemen akting film ini tampil begitu kokoh. Namun, jelas adalah dua pemeran wanita, Vera Farmiga serta Lili Taylor, yang menjadi bintang utama film ini. Hal ini jelas tidak terlepas dari kemampuan duo penulis naskah Chad dan Carey Hayes yang menitikberatkan pengisahan drama The Conjuring pada dua karakter wanita yang masing-masing juga berperan sebagai seorang ibu. Dan ketika baik Farmiga dan Taylor mampu mengeksekusi peran tersebut dengan begitu sempurna, penampilan serta karakter keduanya mampu menjadi nyawa utama dari jalan cerita The Conjuring secara keseluruhan.

Wan tidak hanya menyajikan The Conjuring sebagai sebuah horor klasik dari segi penceritaannya. Dengan latar belakang penceritaan yang berada di tahun ’70-an, Wan mampu menghadirkan ceritanya dengan dukungan tata produksi yang juga tampil sangat meyakinkan, mulai dari tata rias, tata kostum hingga desain produksi dari lokasi yang digunakan di sepanjang penceritaan film. Dukungan tata musik arahan Joseph Bisara juga semakin menambah kental elemen horor klasik dari The Conjuring – dan menjadi salah satu elemen terbaik dari film ini. Ditambah dengan iringan tata teknis kamera yang terus bergerak dinamis dalam menelusuri setiap sudut lokasi penceritaan serta mengikuti pergerakan setiap karakter, penceritaan The Conjuring mampu tampil begitu efektif dalam menakuti setiap penontonnya.

Layaknya film-film horor klasik, James Wan mengeksekusi jalan cerita yang telah ditulis Chad dan Carey Hayes secara perlahan, membiarkan setiap plot penceritaan untuk berkembang dengan baik sekaligus memberikan ruang yang cukup untuk setiap karakter dalam memaparkan kisah mereka. Hasilnya, meskipun harus diakui bahwa The Conjuring tidak akan mampu tampil sekuat Insidious dalam menakuti para penontonnya, namun Wan jelas telah menghadirkan The Conjuring dengan eksekusi penceritaan yang jauh lebih baik dari Insidious maupun film-film yang telah ia garap sebelumnya. Jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan sebuah film horor yang murni bergantung pada atmosfer kengeriannya dan sama sekali tidak bertumpu pada hal-hal klise yang seringkali dieksploitasi dalam film-film sejenis. Berdiri sejajar bersama Insidious dan Sinister sebagai salah satu film horor terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2013/08/08/review-the-conjuring-2013/

INSIDIOUS: CHAPTER 2

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

Pengisahan Insidious: Chapter 2 dimulai dengan kepindahan pasangan suami istri, Josh (Patrick Wilson) dan Renai Lambert (Rose Byrne), beserta ketiga anak mereka ke rumah ibu Josh, Lorraine Lambert (Barbara Hershey), guna mencoba untuk melupakan berbagai tragedi yang telah terjadi pada mereka beberapa waktu yang lalu. Pun begitu, kematian paranormal, Elise Ranier (Lin Shaye), ketika mencoba untuk menolong keluarga Lambert tidak luput dari perhatian hukum yang menyebabkan Josh kini berada di bawah pengawasan pihak kepolisian. Walau kadang masih merasa berada di bawah bayang-bayang sosok supranatural yang mencoba untuk mengganggu keluarga mereka namun Josh dan Renai berusaha sekuat mungkin untuk menatap ke depan dan tidak lagi mempedulikan permasalahan tersebut.

Sial, dunia supranatural sepertinya belum siap untuk melepaskan keluarga Lambert. Secara perlahan, Josh, Renai dan Lorraine mulai merasakan adanya gangguan aneh yang kembali menghantui keseharian mereka. Josh sendiri terus menekankan pada Renai bahwa ia harus tetap berlaku sewajar mungkin demi kenyamanan anak-anak mereka namun Lorraine, yang mulai tidak tahan dengan segala gangguan tersebut, kemudian menghubungi dua rekan kerja Elise, Specs (Leigh Whannell) dan Tucker (Angus Sampson), untuk mencari tahu bagaimana cara melenyapkan berbagai gangguan tersebut untuk selamanya. Setelah melalui beberapa penyelidikan, Specs dan Tucker akhirnya menemukan sebuah tragedi yang menjadi akar penyebab gangguan supranatural yang terus mengikuti keluarga Lambert dan berusaha untuk merebut kehidupan mereka.

James Wan adalah seorang sutradara yang sangat berbakat dalam mengelola kisah-kisah horor. Lewat Insidious – danThe Conjuring yang juga meraih sukses besar ketika dirilis beberapa waktu yang lalu, Wan berhasil membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan luar biasa dalam mengubah plot penceritaan yang sebenarnya begitu sederhana dan familiar menjadi sebuah presentasi horor yang begitu mencekam. Wan benar-benar tahu bahwa penggunaan atmosfer horor yang tepat adalah kunci utama dalam keberhasilan untuk menakut-nakuti penonton. Walaupun minim, Insidious: Chapter 2 masih menggunakan formula yang sama: atmosfer horor nan gloomy yang disajikan di beberapa sudut penceritaan. Dan, pada kebanyakan bagian, penggunaan atmosfer gloomy tersebut mampu bekerja dengan efektif.

Di saat yang bersamaan, Wan dan Whannell gagal untuk memberikan pengembangan mendalam terhadap kisah sederhana yang mereka terapkan di seri pertama film. Daripada berusaha untuk menambah intrik-intrik yang lebih kuat di dalam jalan penceritaan, Wan dan Whannell hanya mendaur ulang kisah lama Insidious dan membumbuinya dengan tambahan konflik untuk menambah kesan kompleksitas cerita. Hasilnya? Jalan cerita Insidious: Chapter 2 lebih sering meninggalkan penontonnya pada alam antah berantah yang akan membuat mereka kesulitan dalam mencerna jalan penceritaan film. Wan dan Whannell juga terlihat lebih sering bertumpu pada jump scares dan adegan-adegan penuh darah untuk menghasilkan kadar kengerian. Kadang bekerja, namun lebih sering terasa begitu predictable dan melelahkan daripada menyenangkan. Yang juga patut diberi perhatian adalah penambahan porsi komedi dalam jalan cerita Insidious: Chapter 2. Yeahhh… not really working, Wan!

Seperti pada seri sebelumnya, Insidious: Chapter 2 masih didukung dengan penampilan-penampilan dari Patrick Wilson, Rose Byrne, Barbara Hershey, Lin Shaye, Leigh Whannell dan Angus Sampson. Kesemuanya masih tampil dalam kualitas penampilan akting yang tidak mengecewakan. Karakter yang diperankan Hershey malah mendapatkan porsi cerita yang lebih besar di film ini – dan berhasil dieksekusinya dengan baik. Kebalikannya, kini giliran karakter yang diperankan oleh Byrne yang harus duduk manis tanpa adanya adegan-adegan esensial yang harus ditampilkan. Malah, ada atau tidak adanya karakter Renai Lambert dalam Insidious: Chapter 2 sepertinya tidak akan berpengaruh banyak pada jalan cerita film ini. Kualitas teknikal Insidious: Chapter 2 tampil tidak mengecewakan, dengan Joseph Bishara lagi-lagi mampu memberikan tata musik yang berpengaruh kuat pada komposisi emosional cerita – meskipun tidak seistimewa apa yang dilakukannya pada The Conjuring.

Masih ingat dengan Saw (2004) yang juga dibidani James Wan dan Leigh Whannell? Film yang membangkitkan genre torture porn di Hollywood tersebut berlanjut hingga seri ketujuh namun terus mengalami penurunan kualitas seiring dengan penambahan jumlah serinya – Wan dan Whannell tidak lagi menangani franchise tersebut semenjak seri ketiga.Insidious: Chapter 2, sayangnya, memiliki potensi yang kuat untuk mengikuti pola kualitas franchise Saw: serinya akan terus berlanjut – berdasarkan ending yang diberikan Wan dan Whannell di film ini – namun kualitasnya akan semakin…well… menyengsarakan – in a bad way. Untuk sebuah lanjutan dari kisah yang tergarap cukup rapi, Insidious: Chapter 2 jelas hadir dengan kapasitas yang begitu dangkal. Mungkin Wan dan Whannell tidak memiliki cukup waktu untuk menggarap jalan cerita Insidious: Chapter 2. Mungkin Wan dan Whannell hanya ingin easy money dari kesuksesan luar biasa Insidious. Namun tetap saja… Insidious: Chapter 2 adalah sebuah presentasi yang cukup mengecewakan dari sisi manapun Anda mencoba untuk melihatnya.

sumber: http://amiratthemovies.wordpress.com/2013/10/08/review-insidious-chapter-2-2013/